Keberadaan Memilukan

Satu malam seorang pemuda membaca terbitan blog dari seorang pengamat di media lain. Membaca dan membaca hingga menemukan suatu kekesalan. Terlebih hal yang ia inginkan tak jua ia temukan. Sesampainya pada suatu tulisan, ia mengamati suatu ayat yang membuat matanya berlinang, menyesal pada rupa dirinya.

“Kenapa aku masih ragu? Kenapa aku masih dirundung perasaan pilu? Kau telah menegaskan dari suratmu. Kau ajarkan kami untuk berbagi. Kau pun memulai waktuku tak cuma singkat, dari segala proses yang aku pun tak pernah paham awalnya, dan tak tahu seberapa dalam maknanya. Terlebih aku jua tak pernah mengerti tentang arti syukur dan mengumbar nalar.”

Pemuda itu pun terdiam, membisu dengan pandangan di matanya, ia merasa tak pantas mengeluhkan hidup.

Surabaya, 2013

(Al Maárij: 19-24)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s